Analisis Sweet Spot Location Attractiveness Bagi Pengembangan Properti Co-Living di Area Perkotaan Yogyakarta

06 September 2026

•

By: Wildan Rafi Fadlilah

Open Project

Sweet Spot Analysis for Co-Living Property in Yogyakarta

Peluang Pasar Properti Co-Living

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Sektor properti hunian di Indonesia tengah mengalami transformasi struktural yang signifikan, di mana model hunian konvensional mulai kehilangan daya tarik utamanya dibandingkan dengan alternatif hunian berbasis layanan. Data industri terbaru mengungkapkan bahwa minat investasi terhadap aset co-living atau hunian bersama modern justru mengalami lonjakan hingga 40% pada tahun 2026, sebuah fenomena yang terjadi di tengah stagnasi pasar properti nasional secara umum (Industry.co.id, 2026). Pergeseran ini didorong oleh tingginya backlog kepemilikan rumah yang mencapai 15 juta unit serta harga properti yang semakin tidak terjangkau bagi generasi muda, menjadikan co-living bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan solusi kebutuhan dasar hunian yang kritis (Perkim.id, 2026). Operator pasar seperti Cove Indonesia mencatat tingkat hunian (occupancy rate) rata-rata sebesar 85% pada semester pertama 2026, yang mengonfirmasi bahwa model bisnis ini telah teruji secara komersial sebagai instrumen investasi yang tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi (Industry.co.id, 2026).

Yogyakarta menawarkan ekosistem yang unik dan sangat kondusif bagi pengembangan co-living karena kombinasi statusnya sebagai kota pendidikan dan pusat ekonomi kreatif. Sebagai "Kota Pelajar", Yogyakarta menampung populasi mahasiswa aktif yang mencapai lebih dari 282.000 jiwa pada tahun 2024, yang menciptakan basis permintaan hunian yang masif dan berkelanjutan (Proceeding Unisa Yogyakarta, 2026). Selain itu, transformasi Yogyakarta menjadi Creative City telah menarik gelombang pekerja lepas (freelancer) dan profesional muda nasional yang mencari fleksibilitas hunian, namun seringkali terkendala oleh suplai hunian yang ada saat ini yang masih didominasi oleh kos-kosan konvensional dengan fasilitas terbatas (Repository UAJY, 2025). Riset menunjukkan adanya ketimpangan antara permintaan hunian berkualitas dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai, di mana banyak mahasiswa dan pekerja muda terpaksa tinggal di kontrakan padat dengan fasilitas minim demi aksesibilitas dekat kampus, menciptakan celah pasar (market gap) yang besar untuk co-living yang menawarkan fasilitas lengkap dan manajemen profesional (Media Jogja, 2026).

Meskipun potensi pasarnya besar, ekspansi co-living di Yogyakarta tidak dapat dilakukan secara serampangan tanpa analisis lokasi yang presisi karena keberhasilan model bisnis ini sangat bergantung pada penentuan "sweet spot" atau lokasi paling optimal. Lokasi yang terlalu dekat dengan pusat kota mungkin memiliki permintaan tinggi, namun sering kali menghadapi persaingan ketat dengan penyedia sewa properti eksisting dan biaya akuisisi lahan yang mahal, sedangkan lokasi yang terlalu jauh mungkin gagal menarik segmen target yang memprioritaskan aksesibilitas ke universitas dan area perkantoran (iNews Surabaya, 2026). Teori investasi properti menekankan bahwa location intelligence yang mencakup jarak ke pusat aktivitas, transportasi umum, dan gaya hidup, merupakan faktor penentu utama dalam valuasi aset co-living, dan tanpa analisis berbasis data, pengembang berisiko mengalami tingkat kekosongan (vacancy rate) yang tinggi atau terjebak dalam perang harga dengan kos-kosan tradisional (The Harmony Group, 2025). Oleh karena itu, identifikasi lokasi yang tepat menjadi kunci strategis untuk menyeimbangkan antara menangkap gelombang permintaan (demand capture) dan memitigasi risiko persaingan (competitive pressure) di pasar yang semakin padat (Viva.co.id, 2026).

Bagi Generasi Z dan profesional muda yang merantau, co-living menawarkan nilai lebih yang tidak dimiliki kos-kosan biasa, yaitu integrasi antara privasi, komunitas, dan fasilitas terpadu. Survei demografis menunjukkan bahwa mayoritas penyewa co-living adalah pekerja dan mahasiswa yang mencari privasi namun tetap menginginkan ruang sosial untuk berjejaring, sebuah kebutuhan yang sulit dipenuhi oleh hunian sewa konvensional (Bisnis.com, 2026). Di Yogyakarta, di mana budaya komunitas sangat kuat, model hunian ini menjadi solusi ideal untuk mengatasi isolasi sosial sekaligus memberikan akses ke fasilitas premium seperti ruang kerja bersama dan area olahraga yang semakin dicari oleh penyewa modern (Detik.com, 2026). Berdasarkan urgensi di atas, penelitian ini hadir sebagai respons atas kebutuhan industri akan panduan ekspansi yang terukur. Penelitian ini diposisikan sebagai landasan pengambilan keputusan (decision-making framework) bagi pengembang properti untuk mengidentifikasi area dengan rasio demand-to-supply paling optimal, meminimalkan risiko investasi, dan merumuskan strategi penetrasi pasar yang efektif di tengah persaingan properti sewa di Yogyakarta.

1.2 Tujuan Penelitian

  1. 1.
    Menentukan Peluang Area Pengembangan Potensial Berbasis Titik Bangkitan Aktivitas Target Pasar Utama, Lanskap Kompetitif, dan Fasilitas Pendukung Co-Living.
  1. 2.
    Menentukan Lokasi Area Optimal sebagai Dasar Penentuan Pembangunan atau Akuisisi Properti Eksisting melalui Plugin NEBULA berbasis aplikasi QGIS.
  1. 3.
    Menghasilkan Rekomendasi Lokasi Strategis bagi Pengembangan Properti Co-Living di Area Perkotaan Yogyakarta.

Metode Penelitian

2.1 Lokus Penelitian

Penelitian ini menggunakan lokus di area perkotaan Yogyakarta yang mencakup wilayah administrasi Kota Yogyakarta dan tiga kecamatan di Kabupaten Sleman, yaitu Kecamatan Ngaglik, Kecamatan Depok, dan Kecamatan Mlati.

Batas amatan penelitian mencakup seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta dan tiga kecamatan di Kabupaten Sleman

Lokus ini dipilih untuk dapat mempresentasikan lanskap demand yang nyata karena pada area ini memiliki banyak titik tarikan aktivitas yang berasal dari beberapa universitas dan kantor-kantor. Selain itu, area ini memiliki perkembangan yang pesat dari sisi pertumbuhan properti dan investasi komersial sehingga dapat relevan dengan tujuan utama penelitian ini sebagai langkah strategis dalam menentukan lokasi keberadaan properti Co-Living untuk mendapatkan potensi pasar yang lebih akurat.

2.2 Variabel dan Faktor-Faktor Penelitian

Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan terbatas pada faktor-faktor yang dapat memengaruhi keatraktifan lokasi secara khusus bagi properti Co-Living yang mengutamakan gaya hidup modern. Variabel dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu variabel pembangkit permintaan, variabel pesaing pasar berupa kompetitor serupa, dan variabel penunjang kebutuhan gaya hidup bagi penghuni Co-Living melalui amenitas atau fasilitas di sekitarnya. Berikut merupakan tabel perincian secara lebih lengkap.

Tabel Variabel

2.3 Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis spasial yang dipadukan dengan analisis deskriptif untuk mengidentifikasi area potensial dan rekomendasi lokasi pengembangan co-living. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan QGIS sebagai perangkat utama, sedangkan GeoMapID digunakan sebagai perangkat pendukung pada tahap akhir untuk melakukan analisis karakteristik dan kondisi lokasi melalui fitur Site Analysis. Data yang digunakan meliputi sebaran demand generators berupa perguruan tinggi dan kantor, properti kompetitor, serta fasilitas pendukung yang relevan dengan kebutuhan target penghuni co-living. Sementara itu, pengumpulan dan pengolahan data dilakukan melalui integrasi QGIS dan GeoMapid, sedangkan tahapan analisis utama di QGIS mencakup analisis keterjangkauan berbasis jaringan menggunakan isodistance dan isochrone, analisis kepadatan kompetitor menggunakan heatmap, serta analisis overlay dan pembobotan menggunakan Raster Calculator. Rangkaian analisis tersebut digunakan untuk membentuk Market Opportunity dan Overall Opportunity sebagai dasar penyaringan area potensial pengembangan co-living.

Tahap selanjutnya menggunakan metode Maximal Covering Location Problem (MCLP) melalui plugin NEBULA pada QGIS untuk mengidentifikasi titik referensi lokasi yang mampu menangkap area dengan tingkat opportunity yang tinggi secara optimal dalam batas jarak pelayanan tertentu. MCLP dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian untuk menentukan lokasi yang dapat memaksimalkan cakupan weighted opportunity dari area potensial yang telah teridentifikasi, sehingga lokasi yang dihasilkan tidak hanya didasarkan pada nilai opportunity suatu titik, tetapi juga pada kemampuan lokasi tersebut menjangkau area peluang di sekitarnya. Hasil optimasi kemudian digunakan sebagai titik referensi untuk menentukan priority search area melalui buffer 500 meter dan extended search area hingga 1 kilometer. Area yang menunjukkan konsentrasi atau overlap dari hasil rekomendasi selanjutnya dianalisis lebih lanjut menggunakan fitur Site Analysis pada GeoMapid untuk mempertimbangkan karakteristik harga lahan, kondisi properti, fasilitas sekitar, dan faktor lingkungan sebagai bahan penyusunan rekomendasi pengembangan.

Dengan demikian, analisis QGIS digunakan untuk mengidentifikasi pola spasial demand, kompetisi pasar, aksesibilitas fasilitas, dan opportunity, sekaligus mengoptimalkan lokasi berdasarkan MCLP. Sementara itu, GeoMapid digunakan sebagai analisis pendukung pada tahap akhir untuk memperkaya evaluasi karakteristik lokasi dan site constraint yang belum sepenuhnya direpresentasikan dalam analisis spasial sebelumnya. Keseluruhan proses analisis dan penyusunan rekomendasi disajikan dalam bagan alur metodologi berikut.

Alur Metodologis Mapid

Hasil dan Pembahasan

3.1 Hasil

3.1.1 Peluang Pasar

A. Potensi Cakupan Permintaan Berbasis Lokasi Bangkitan

Analisis potential demand area dilakukan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki keterjangkauan relatif terhadap titik-titik yang diasumsikan sebagai demand generators, yaitu perguruan tinggi dan kantor. Kedua jenis lokasi tersebut digunakan sebagai pendekatan spasial untuk merepresentasikan sumber aktivitas mahasiswa dan pekerja sebagai target potensial penghuni co-living. Keterjangkauan dianalisis menggunakan isodistance sejauh 2 km dengan mempertimbangkan jaringan jalan yang tersedia sehingga area yang terbentuk merepresentasikan wilayah yang secara spasial berada dalam jangkauan perjalanan darat dari masing-masing demand generator. Nilai pada setiap titik diberikan berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya sehingga area dengan cakupan beberapa demand generators menunjukkan konsentrasi peluang permintaan yang lebih tinggi. Hasil analisis potential demand area ditunjukkan pada Gambar berikut.

Cakupan Wilayah Permintaan Potensial Melalui Pendekatan Isodistance Titik Universitas dan Kantor

Berdasarkan Gambar 3.1, potensi cakupan permintaan menunjukkan pola spasial yang tidak merata dan cenderung terkonsentrasi pada bagian tengah hingga selatan wilayah analisis. Wilayah dengan nilai cakupan tertinggi, yaitu ≥205, berada pada area yang memperoleh jangkauan dari sejumlah demand generator secara bersamaan. Sebaliknya, wilayah dengan nilai cakupan lebih rendah, yaitu <55, cenderung berada pada bagian yang memiliki keterjangkauan terhadap lebih sedikit demand generator. Pola tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi perguruan tinggi dan kantor serta tumpang tindih area keterjangkauannya membentuk variasi potensi cakupan permintaan secara spasial. Hasil analisis ini selanjutnya digunakan sebagai salah satu komponen dalam pembentukan Market Opportunity dengan mempertimbangkan kondisi persaingan pasar pada tahap analisis berikutnya.

B. Peluang Kompetitif Pasar

Analisis peluang kompetitif pasar dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat tekanan persaingan pada wilayah studi berdasarkan sebaran properti yang berpotensi menjadi kompetitor co-living, meliputi apartemen, guesthouse, kos sewa, dan co-living eksisting. Sebaran titik kompetitor dianalisis menggunakan heatmap untuk menggambarkan konsentrasi kompetitor secara spasial. Hasil kepadatan tersebut kemudian diinterpretasikan sebagai competitive pressure, yaitu area dengan konsentrasi kompetitor yang lebih tinggi menunjukkan tekanan persaingan yang lebih besar. Nilai tersebut kemudian diinversikan untuk membentuk competitive opportunity, sehingga area dengan tekanan persaingan lebih rendah memperoleh nilai peluang kompetitif yang lebih tinggi. Hasil analisis tersebut disajikan pada Gambar 3.2.

Competitive Landscape Area

Berdasarkan Gambar 3.2, peluang kompetitif pasar menunjukkan pola spasial yang relatif luas pada sebagian besar wilayah studi, dengan nilai ≥8 yang mendominasi area berwarna hijau. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah memiliki tekanan kompetisi yang relatif rendah terhadap properti sejenis. Sebaliknya, nilai peluang kompetitif yang lebih rendah, khususnya pada rentang <2 hingga 4–6, terkonsentrasi pada beberapa lokasi tertentu yang ditunjukkan oleh area berwarna merah hingga kuning. Konsentrasi tersebut mengindikasikan adanya pengelompokan kompetitor pada lokasi-lokasi tertentu sehingga tekanan persaingan relatif lebih tinggi. Variasi spasial ini menunjukkan bahwa peluang pengembangan co-living tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan demand, tetapi juga oleh tingkat persaingan pasar pada masing-masing wilayah. Hasil analisis peluang kompetitif selanjutnya digunakan bersama dengan potensi cakupan permintaan untuk membentuk Market Opportunity Area. Dengan demikian, area dengan peluang kompetitif tinggi belum tentu merupakan area dengan potensi pasar tertinggi, sehingga diperlukan integrasi antara potensi cakupan permintaan dan peluang kompetitif untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki keseimbangan antara kemampuan menangkap demand dan tekanan persaingan. Dengan demikian, area dengan peluang kompetitif tinggi belum tentu merupakan area dengan potensi pasar tertinggi sehingga diperlukan integrasi antara potensi cakupan permintaan dan peluang kompetitif untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki keseimbangan antara kemampuan menangkap demand dan tekanan persaingan.

C. Potensi Ketersediaan Pasar Berbasis Kondisi Permintaan dan Suplai

Potensi ketersediaan pasar dianalisis dengan mengintegrasikan potensi cakupan permintaan dan peluang kompetitif pasar. Potensi cakupan permintaan merepresentasikan tingkat keterjangkauan terhadap demand generators berupa perguruan tinggi dan kantor, sedangkan peluang kompetitif merepresentasikan tingkat ruang pasar berdasarkan kondisi persaingan properti sejenis. Kedua komponen tersebut kemudian diintegrasikan menggunakan pembobotan sebesar 0.6 untuk sisi demand dan 0.4 untuk sisi kompetitor sehingga dapat menghasilkan nilai Market Opportunity pada setiap unit analisis. Nilai Market Opportunity digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki kombinasi potensi permintaan dan kondisi persaingan yang relatif mendukung bagi pengembangan co-living. Hasil analisis tersebut disajikan pada Gambar 3.3.

Peluang Pasar Berdasarkan Kondisi Demand dan Supply

Berdasarkan Gambar 3.3, distribusi Market Opportunity menunjukkan adanya variasi spasial antarwilayah. Nilai Market Opportunity yang lebih tinggi, yaitu pada rentang ≥4, cenderung terkonsentrasi pada bagian selatan wilayah studi, sedangkan nilai yang lebih rendah tersebar pada bagian utara dan beberapa lokasi di bagian tengah wilayah studi. Pola tersebut menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat potensi pasar yang lebih tinggi terbentuk dari kombinasi keterjangkauan yang lebih besar terhadap demand generators dan kondisi persaingan yang relatif memberikan ruang pasar. Sebaliknya, wilayah dengan nilai lebih rendah menunjukkan bahwa salah satu atau kedua komponen tersebut relatif kurang mendukung. Dengan demikian, analisis ini tidak hanya menunjukkan lokasi dengan potensi permintaan tinggi, tetapi juga mengidentifikasi wilayah yang memiliki keseimbangan antara kemampuan menangkap permintaan dan tingkat tekanan persaingan pasar.

D. Cakupan Keterjangkauan Fasilitas Pendukung

Analisis cakupan keterjangkauan fasilitas pendukung dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat aksesibilitas wilayah terhadap fasilitas yang menunjang kebutuhan sehari-hari target penghuni co-living. Fasilitas yang dianalisis meliputi fasilitas perdagangan, jasa, makanan dan minuman, transportasi, kesehatan, olahraga, serta fasilitas pendukung lainnya. Keterjangkauan dianalisis menggunakan walking isochrone dengan waktu tempuh 15 menit dari masing-masing titik fasilitas. Area hasil isochrone kemudian dioverlay untuk mengetahui tingkat akumulasi keterjangkauan terhadap berbagai fasilitas pada setiap unit analisis. Semakin banyak fasilitas yang dapat dijangkau dalam waktu 10 menit berjalan kaki, semakin tinggi nilai cakupan keterjangkauan fasilitas pendukung pada wilayah tersebut. Hasil analisis disajikan pada Gambar 3.4.

Supporting Facilities Isochrone

Berdasarkan Gambar 3.4, tingkat keterjangkauan fasilitas pendukung menunjukkan pola spasial yang bervariasi. Wilayah dengan nilai cakupan tertinggi, yaitu ≥5, terlihat terkonsentrasi pada bagian tengah hingga selatan wilayah studi, sementara sebagian besar wilayah lainnya berada pada rentang nilai yang lebih rendah. Konsentrasi nilai tinggi menunjukkan adanya lokasi yang memiliki keterjangkauan terhadap lebih banyak jenis fasilitas dalam radius waktu berjalan kaki 15 menit. Sebaliknya, area dengan nilai cakupan rendah menunjukkan keterbatasan relatif dalam keterjangkauan fasilitas pendukung. Pola tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap fasilitas pendukung tidak tersebar secara merata dan menjadi salah satu faktor yang membedakan tingkat daya tarik suatu wilayah untuk pengembangan co-living. Hasil analisis keterjangkauan fasilitas pendukung selanjutnya diintegrasikan dengan Market Opportunity untuk membentuk Peta Peluang Area Potensial Khusus Pasar Properti Co-Living, sehingga area yang diidentifikasi tidak hanya memiliki potensi pasar, tetapi juga didukung oleh aksesibilitas terhadap fasilitas yang relevan dengan kebutuhan penghuni.

3.1.2 Peluang Lokasi dan Rekomendasi Area Pengembangan Potensial

A. Peluang Area Potensial Khusus Pasar Properti Co-Living

Hasil integrasi antara potensi Market Opportunity dan cakupan keterjangkauan fasilitas pendukung menghasilkan area potensial yang merepresentasikan tingkat peluang suatu wilayah untuk pengembangan properti co-living. Nilai tersebut mempertimbangkan kombinasi antara potensi permintaan, kondisi persaingan pasar, serta dukungan aksesibilitas terhadap fasilitas yang relevan dengan kebutuhan target penghuni. Hasil pengolahan menggunakan Raster Calculator menghasilkan nilai peluang kontinu yang selanjutnya divisualisasikan untuk melihat pola dan konsentrasi peluang pengembangan secara spasial. Distribusi nilai ini tersebut disajikan pada Gambar 3.5.

Opportunity Market for Co-Living

Berdasarkan Gambar 3.5, peta di atas menunjukkan variasi spasial yang cukup jelas antarwilayah. Nilai peluang yang lebih tinggi terlihat lebih terkonsentrasi pada bagian tengah hingga selatan wilayah studi, sedangkan wilayah dengan nilai yang lebih rendah cenderung tersebar pada bagian utara dan beberapa bagian perifer. Konsentrasi nilai tinggi menunjukkan wilayah yang secara simultan memiliki potensi pasar yang lebih baik dan didukung oleh tingkat keterjangkauan fasilitas pendukung yang relatif tinggi. Dengan demikian, pola tersebut menunjukkan bahwa peluang pengembangan co-living tidak hanya ditentukan oleh keberadaan sumber permintaan dan kondisi persaingan, tetapi juga oleh kualitas lingkungan pendukung bagi calon penghuni. Dalam memperoleh batas area yang lebih operasional dalam proses pemilihan lokasi strategis, hasil analisis ini selanjutnya direklasifikasi ke dalam beberapa tingkat peluang. Reklasifikasi dilakukan untuk membedakan wilayah berdasarkan tingkat prioritas peluang dan mempermudah proses penyaringan area yang akan digunakan pada tahap optimasi lokasi. Hasil klasifikasi tersebut disajikan pada Gambar 3.6.

Selected Area to Recommend

Hasil klasifikasi pada Gambar 3.6 menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat peluang tinggi terkonsentrasi terutama pada bagian tengah hingga selatan wilayah studi. Area dengan nilai ≥4 membentuk konsentrasi area potensial utama, sedangkan area dengan nilai 3–4 membentuk wilayah transisi yang mengelilingi area dengan peluang lebih tinggi. Sementara itu, wilayah dengan nilai <3 tersebar lebih luas terutama pada bagian utara dan perifer. Pola klasifikasi tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat prioritas peluang secara spasial dan memberikan dasar untuk menyaring wilayah yang dapat dipertimbangkan lebih lanjut sebagai area potensial pengembangan co-living. Berdasarkan hasil tersebut, area dengan tingkat peluang yang memenuhi ambang batas yang telah ditetapkan dipertahankan sebagai candidate opportunity area, sedangkan area dengan tingkat peluang rendah dikeluarkan dari proses seleksi berikutnya. Area kandidat tersebut selanjutnya digunakan sebagai weighted spatial opportunity surface dalam proses optimasi lokasi menggunakan metode Maximal Covering Location Problem (MCLP) melalui plugin NEBULA. Dengan pendekatan ini, proses pemilihan lokasi tidak hanya mempertimbangkan tingkat peluang suatu area, tetapi juga kemampuan suatu lokasi untuk mencakup wilayah dengan bobot peluang yang lebih tinggi.

B. Rekomendasi Lokasi Pengembangan Berdasarkan Pengolahan melalui Plugin Nebula dengan Metode Maximal Covering Location Problem (MCLP)

Berdasarkan hasil identifikasi peta potensial sebelumnya, wilayah studi selanjutnya disaring untuk menentukan area yang dapat dipertimbangkan dalam proses optimasi lokasi. Area dengan tingkat peluang rendah dikeluarkan, sedangkan area dengan tingkat peluang mulai dari Medium–Low, Medium-High High–Very High dipertahankan sebagai area kandidat. Area kandidat tersebut kemudian direpresentasikan dalam bentuk raster dengan nilai peluang sebagai bobot spasial (spatial opportunity weight). Raster ini digunakan sebagai input dalam proses optimasi lokasi menggunakan metode Maximal Covering Location Problem (MCLP) melalui plugin NEBULA pada QGIS. Hasil klasifikasi area kandidat yang digunakan sebagai dasar proses optimasi ditunjukkan pada Gambar 3.7.

Co-Living Overall Opportunity Area

Gambar 3.7 menunjukkan bahwa area kandidat dengan tingkat peluang Medium–Low hingga High–Very High tersebar pada sebagian besar bagian tengah hingga selatan wilayah studi, dengan konsentrasi High–Very High yang lebih kuat pada bagian tengah–selatan. Penyaringan tersebut dilakukan agar proses optimasi berfokus pada wilayah yang sebelumnya telah teridentifikasi memiliki peluang pengembangan co-living, sehingga NEBULA tidak melakukan optimasi pada area dengan tingkat peluang yang rendah. Selanjutnya, raster peluang potensial pada area kandidat digunakan sebagai bobot dalam metode MCLP untuk menentukan lokasi referensi yang mampu memberikan cakupan terhadap wilayah dengan nilai peluang yang relatif tinggi. MCLP dipilih karena metode ini berorientasi pada pemaksimalan cakupan permintaan berbobot (weighted demand coverage) dalam batas jarak pelayanan tertentu, sehingga sesuai untuk mengidentifikasi lokasi yang secara optimal dapat menjangkau area dengan peluang pengembangan yang lebih besar. Dalam penelitian ini, plugin NEBULA digunakan untuk mengolah raster peluang tersebut dengan service radius 1 km dan batas jarak antarlokasi sesuai parameter optimasi yang telah ditetapkan, yakni sebesar 500 meter, serta mempertimbangkan lokasi eksisting berupa titik-titik kompetitor serupa. Hasil pengolahan menghasilkan sejumlah titik yang merepresentasikan optimal reference points bagi pertimbangan pengembangan co-living.

Lokasi Rekomendasi

Berdasarkan Gambar 3.8, hasil optimasi MCLP menghasilkan sejumlah titik referensi yang tersebar pada area kandidat. Titik-titik tersebut tidak dimaksudkan sebagai lokasi pembangunan yang bersifat presisi, tetapi sebagai titik referensi untuk mengarahkan pencarian lokasi pengembangan pada area di sekitarnya. Penyebaran titik menunjukkan bahwa lokasi optimal tidak selalu berada tepat pada wilayah dengan kelas tertinggi, karena penentuan lokasi MCLP juga mempertimbangkan kemampuan suatu titik dalam mencakup wilayah peluang di sekitarnya dalam batas jarak pelayanan yang ditentukan. Oleh karena itu, hasil MCLP digunakan sebagai dasar untuk membentuk area pencarian lokasi lanjutan melalui buffer 500 meter sebagai area prioritas primer pengembangan dan buffer hingga 1 kilometer sebagai area prioritas sekunder pengembangan. Area di sekitar titik hasil optimasi kemudian dianalisis berdasarkan tingkat kedekatan dan konsentrasi hasil rekomendasi. Area yang memiliki overlap antarzona pencarian dan tetap berada pada wilayah dengan peluang area potensial properti Co-Living yang memadai diprioritaskan sebagai kandidat untuk analisis tapak lebih lanjut menggunakan GeoMapid.

3.2 Pembahasan dan Rekomendasi Strategis

Hasil analisis sebelumnya menunjukkan bahwa proses identifikasi area potensial co-living dan optimasi lokasi menggunakan metode Maximal Covering Location Problem (MCLP) menghasilkan sejumlah titik referensi lokasi optimal yang tersebar pada area dengan peluang pengembangan co-living. Titik tersebut tidak dimaksudkan sebagai lokasi pembangunan yang bersifat presisi, tetapi sebagai acuan untuk mengidentifikasi wilayah di sekitarnya yang dapat dipertimbangkan lebih lanjut oleh pengembang. Oleh karena itu, analisis lanjutan dilakukan untuk membentuk area pencarian lokasi berdasarkan kedekatan terhadap titik hasil optimasi serta mengidentifikasi area yang memiliki konsentrasi rekomendasi secara spasial.

Di dalam menerjemahkan titik referensi hasil MCLP menjadi area pencarian yang lebih operasional, digunakan buffer dengan radius 500 meter pada setiap titik rekomendasi. Radius tersebut digunakan sebagai area prioritas primer (priority search area), yaitu wilayah di sekitar titik referensi yang dapat menjadi fokus awal bagi pengembang dalam mencari dan mengevaluasi lokasi aktual untuk pengembangan co-living. Penggunaan buffer dimaksudkan untuk memberikan fleksibilitas spasial karena titik hasil MCLP merupakan hasil optimasi pada tingkat wilayah, sehingga lokasi pengembangan aktual masih perlu disesuaikan dengan ketersediaan lahan dan berbagai site constraints. Hasil pembentukan area prioritas melalui buffer 500 meter ditunjukkan pada Gambar 3.9.

A. Penentuan Area Prioritas Pengembangan melalui Buffer 500 Meter

Priority Search Area

Berdasarkan Gambar 3.9, buffer 500 meter dari titik hasil MCLP membentuk sejumlah area pencarian yang tersebar pada wilayah kandidat. Beberapa buffer menunjukkan kedekatan dan tumpang tindih satu sama lain, yang mengindikasikan adanya konsentrasi hasil optimasi pada wilayah tertentu. Area yang memperoleh tumpang tindih dari beberapa buffer dapat dipandang sebagai wilayah dengan tingkat konsentrasi rekomendasi yang lebih kuat dibandingkan area yang hanya berada dalam jangkauan satu titik. Kondisi tersebut selanjutnya digunakan sebagai salah satu dasar dalam menentukan area kandidat prioritas untuk analisis lebih lanjut. Pemilihan area kandidat tidak hanya mempertimbangkan keberadaan tumpang tindih buffer, tetapi juga memperhatikan tingkat peluang area properti pada area tersebut. Dengan demikian, area yang berada dalam jangkauan buffer 500 meter dan memiliki peluang yang relatif tinggi diprioritaskan untuk analisis lanjutan. Beberapa area dengan karakteristik tersebut kemudian dipilih untuk dilakukan site analysis menggunakan GeoMapid guna mengevaluasi kondisi lokasi, harga lahan, karakteristik properti, fasilitas pendukung, serta site constraints lainnya.

B. Penentuan Area Alternatif Pengembangan Sekunder melalui Buffer 1000 Meter

Selain area prioritas dalam radius 500 meter, dilakukan perluasan area pencarian hingga radius 1.000 meter dari titik referensi hasil MCLP. Buffer 1.000 meter digunakan sebagai area alternatif pengembangan sekunder (extended search area), terutama untuk mengakomodasi kondisi ketika lokasi pada area prioritas tidak dapat dikembangkan karena keterbatasan ketersediaan lahan, kondisi fisik, harga lahan, maupun site constraints lainnya. Perluasan radius ini juga memberikan gambaran mengenai wilayah di sekitar titik referensi yang masih memiliki keterkaitan spasial dengan lokasi hasil optimasi. Hasil pembentukan buffer 1.000 meter ditunjukkan pada Gambar 3.10.

Buffer 1000m

Berdasarkan Gambar 3.10, buffer 1.000 meter menghasilkan area pencarian yang lebih luas dibandingkan buffer 500 meter dan mencakup wilayah di sekitar seluruh titik referensi hasil MCLP. Beberapa area menunjukkan adanya tumpang tindih antarbufffer, terutama pada bagian tengah wilayah studi, yang menunjukkan kedekatan spasial beberapa titik hasil optimasi. Tumpang tindih tersebut mengindikasikan adanya konsentrasi hasil rekomendasi pada wilayah tertentu dan dapat digunakan sebagai informasi tambahan dalam menentukan area yang perlu diprioritaskan untuk evaluasi lebih lanjut. Namun, area dalam radius 1.000 meter tidak secara otomatis ditetapkan sebagai area pengembangan, melainkan menjadi alternatif area pencarian yang masih memerlukan penyaringan berdasarkan pertimbangan analisis site dari sisi potensi kebencanaan, ketersediaan lahan, dan kondisi tapak.

Buffer 500 meter dari setiap titik hasil MCLP digunakan sebagai area prioritas pencarian lokasi. Bagian buffer yang saling tumpang tindih antar titik menunjukkan adanya konsentrasi spasial hasil optimasi dan selanjutnya diidentifikasi sebagai area prioritas untuk analisis lanjutan. Area prioritas tersebut kemudian dianalisis menggunakan fitur Site Analysis pada GeoMapid untuk mengevaluasi karakteristik lokasi, seperti harga tanah, kondisi properti, fasilitas pendukung, dan kondisi lingkungan di sekitar site rekomendasi.

C. Hasil Analisis melalui fitur Site Analysis MAPID

Berdasarkan hasil optimasi MCLP, sejumlah titik referensi lokasi optimal digunakan untuk membentuk priority search area melalui buffer 500 meter. Area yang memiliki tumpang tindih antar buffer menunjukkan adanya konsentrasi spasial hasil optimasi dan selanjutnya diprioritaskan untuk analisis lokasi lebih lanjut. Berdasarkan hasil penyaringan tersebut, diperoleh empat area prioritas yang kemudian dianalisis menggunakan fitur Site Analysis pada GeoMapid. Analisis lanjutan dilakukan untuk memahami karakteristik masing-masing area dari aspek harga lahan, kondisi properti di sekitarnya, fasilitas pendukung, dan kondisi lingkungan sebagai pertimbangan dalam menentukan arah pengembangan co-living.

  • Rekomendasi Area I

Area I merupakan salah satu area prioritas yang teridentifikasi melalui hasil optimasi MCLP dan penyaringan berdasarkan tumpang tindih buffer 500 meter dari beberapa titik referensi lokasi optimal. Konsentrasi buffer pada area ini menunjukkan adanya kedekatan spasial beberapa hasil optimasi, sehingga area tersebut diprioritaskan untuk dipertimbangkan sebagai lokasi potensial pengembangan co-living. Selain itu, area rekomendasi tetap berada dalam cakupan wilayah yang sebelumnya telah teridentifikasi memiliki tingkat peluang yang memadai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Area I memiliki keterkaitan antara potensi peluang lokasi dan hasil optimasi penempatan fasilitas.

Rekomendasi 1

Berdasarkan Gambar 3.11, Area I memperlihatkan adanya tumpang tindih area pencarian dari beberapa titik hasil MCLP, yang menunjukkan konsentrasi rekomendasi lokasi pada wilayah yang relatif berdekatan. Tumpang tindih tersebut menjadi salah satu dasar pemilihan area untuk analisis lebih lanjut karena menunjukkan bahwa wilayah yang sama muncul sebagai area yang dekat dengan lebih dari satu lokasi referensi hasil optimasi. Namun, keberadaan overlap belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa seluruh wilayah tersebut layak dikembangkan, sehingga diperlukan analisis lanjutan terhadap karakteristik lahan, kondisi properti, fasilitas pendukung, dan site constraints. Melalui analisis dari GeoMapid Area 1 menunjukkan kondisi pasar yang relatif kuat dengan dukungan fasilitas perkotaan di sekitarnya, termasuk perdagangan dan retail, jasa, makanan dan minuman, serta kedekatan terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan. Di sekitar area juga ditemukan keberadaan properti sewa berupa kost. Namun, area ini memiliki harga tanah yang relatif tinggi, yaitu sekitar Rp10–20 juta/m² dengan rata-rata Rp14,60 juta/m². Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun lingkungan pendukung dan pasar hunian sewa cukup menarik, biaya lahan menjadi salah satu faktor pembatas utama dalam pengembangan. Dengan demikian, direkomendasikan untuk Area 1 lebih sesuai diarahkan pada pengembangan dengan diferensiasi dan positioning yang kuat. Tingginya biaya lahan perlu diimbangi dengan nilai tambah produk, misalnya melalui konsep, fasilitas, kualitas layanan, atau segmentasi penghuni yang memiliki kemampuan membayar lebih tinggi.

  • Rekomendasi Area II

Area II merupakan salah satu area prioritas yang teridentifikasi berdasarkan konsentrasi hasil optimasi MCLP, yang ditunjukkan oleh adanya tumpang tindih buffer 500 meter dari beberapa titik referensi lokasi optimal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki kedekatan spasial terhadap lebih dari satu hasil optimasi sehingga dipertimbangkan sebagai area yang memiliki tingkat prioritas lebih tinggi untuk pengembangan co-living. Selain itu, area ini berada dalam cakupan wilayah yang telah memenuhi kriteria peluang properti pada tahap analisis sebelumnya.

Rekomendasi Area 2

Berdasarkan Gambar 3.12, terlihat bahwa beberapa buffer 500 meter saling bertumpang tindih pada bagian tengah Area II. Tumpang tindih tersebut menunjukkan adanya konsentrasi hasil optimasi pada wilayah yang relatif berdekatan dan menjadi salah satu dasar dalam menentukan Area II sebagai priority candidate area. Keberadaan beberapa titik referensi dalam satu kawasan juga memberikan fleksibilitas dalam mempertimbangkan lokasi aktual, karena pengembang tidak terbatas pada satu titik tertentu dalam melakukan pencarian lahan. Hasil Site Analysis pada Area II menunjukkan bahwa harga tanah berada pada kisaran Rp1–2 juta/m² dengan rata-rata sekitar Rp1,15 juta/m². Di sekitar area juga terdapat properti berupa kost dan rumah, yang menunjukkan adanya aktivitas pasar hunian sewa. Salah satu contoh kost memiliki luas tanah 377 m² dan luas bangunan 400 m² dengan harga sekitar Rp7,5 miliar, sedangkan contoh rumah dengan luas tanah 105 m² dan bangunan 180 m² ditawarkan sekitar Rp1,7 miliar. Kondisi harga lahan yang relatif rendah dibandingkan beberapa area kandidat lainnya, serta keberadaan properti hunian sewa, memberikan indikasi adanya peluang pengembangan yang cukup fleksibel dari sisi biaya dan karakteristik pasar. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa area dinilai didukung oleh kepadatan penduduk dan kondisi pasar hunian yang dapat mendukung pengembangan co-living, meskipun informasi risiko bencana pada lokasi belum tersedia dalam data yang dianalisis. Area II direkomendasikan sebagai area prioritas pengembangan dengan orientasi efisiensi biaya dan harga yang kompetitif. Harga tanah yang relatif rendah dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi pengembang untuk mengalokasikan investasi pada pembangunan, fasilitas bersama, dan peningkatan kualitas layanan co-living. Keberadaan properti sewa di sekitar area juga menunjukkan bahwa konsep hunian sewa telah terdapat dalam lingkungan pasar setempat. Namun, sebelum pengembangan dilakukan, perlu dilakukan verifikasi terhadap ketersediaan dan status lahan, kondisi fisik tapak, regulasi pemanfaatan ruang, serta kondisi kompetisi aktual untuk memastikan kelayakan pengembangan.

  • Rekomendasi Area III

Area III merupakan salah satu area prioritas yang diperoleh dari hasil optimasi MCLP dan penyaringan berdasarkan tumpang tindih buffer 500 meter. Pada area ini terlihat adanya konsentrasi beberapa buffer dari titik referensi hasil optimasi yang saling beririsan, terutama pada bagian tengah kawasan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya konsentrasi spasial hasil optimasi, sehingga wilayah yang mengalami tumpang tindih diprioritaskan sebagai area yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut untuk pengembangan co-living.

Rekomendasi III

Berdasarkan Gambar 3.13, konsentrasi buffer pada bagian tengah menunjukkan bahwa beberapa titik referensi hasil MCLP memiliki kedekatan spasial dan menghasilkan area pencarian yang saling bertumpang tindih. Kondisi ini menunjukkan adanya spatial convergence dari hasil optimasi, sehingga area tersebut memiliki relevansi lebih tinggi untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut dibandingkan area yang hanya berada dalam jangkauan satu titik referensi. Meskipun demikian, tumpang tindih buffer digunakan sebagai indikator prioritas pencarian dan tidak secara langsung menunjukkan kelayakan pembangunan pada seluruh area.

Hasil Site Analysis menunjukkan bahwa Area III memiliki harga tanah pada kisaran Rp5–10 juta/m² dengan rata-rata sekitar Rp6,41 juta/m². Di sekitar area terdapat berbagai jenis properti seperti rumah, ruko, dan hotel, meskipun informasi mengenai properti sewa secara spesifik masih terbatas. Area ini juga didukung oleh fasilitas perdagangan dan retail, layanan atau jasa, serta makanan dan minuman yang cukup beragam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pendukung untuk aktivitas hunian relatif tersedia, tetapi informasi mengenai pasar hunian sewa dan kondisi risiko lokasi masih memerlukan validasi lebih lanjut. Data risiko bencana spesifik pada lokasi belum tersedia, meskipun terdapat wilayah sekitar dengan variasi tingkat risiko longsor.

Area III dapat direkomendasikan sebagai area pengembangan secara selektif. Dukungan fasilitas dan karakteristik lingkungan memberikan potensi bagi pengembangan co-living, sedangkan harga tanah yang berada pada tingkat menengah memberikan ruang yang relatif lebih fleksibel dibandingkan area dengan biaya lahan tinggi. Namun, keterbatasan informasi mengenai pasar hunian sewa menunjukkan perlunya validasi lebih lanjut terhadap kebutuhan pasar, ketersediaan lahan, dan kondisi kompetisi sebelum investasi dilakukan. Pengembangan pada area ini dapat diarahkan pada konsep atau segmen pasar yang memiliki keunggulan dibandingkan properti hunian sewa yang telah tersedia di sekitarnya.

  • Rekomendasi Area IV

Area IV merupakan salah satu area prioritas yang teridentifikasi melalui hasil optimasi MCLP dan penyaringan berdasarkan tumpang tindih buffer 500 meter dari beberapa titik referensi lokasi optimal. Konsentrasi buffer pada area ini menunjukkan adanya kedekatan spasial beberapa hasil optimasi, sehingga area tersebut dipertimbangkan sebagai salah satu priority candidate area untuk pengembangan co-living. Selain didasarkan pada konsentrasi hasil optimasi, area ini juga berada pada wilayah yang telah memenuhi tingkat peluang pada tahap analisis sebelumnya.

Rekomendasi IV

Berdasarkan hasil Site Analysis, Area IV berada di wilayah Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, dengan harga tanah pada kisaran Rp2–5 juta/m² dan rata-rata sekitar Rp4,44 juta/m². Data properti di sekitar lokasi menunjukkan keberadaan rumah, tanah, dan apartemen, meskipun informasi mengenai properti yang secara spesifik disewakan masih terbatas. Kondisi lingkungan juga menunjukkan kepadatan penduduk sekitar 16.874 jiwa/km² pada tahun 2023 serta keberadaan pusat perbelanjaan dan berbagai fasilitas layanan yang dapat mendukung aktivitas penghuni co-living.

Dari sisi karakteristik pengembangan, Area IV memiliki kombinasi yang relatif seimbang antara biaya lahan dan dukungan aktivitas perkotaan. Harga tanahnya lebih rendah dibandingkan Area I dan Area III, sementara keberadaan fasilitas pendukung dan kepadatan penduduk memberikan indikasi adanya lingkungan yang mendukung aktivitas hunian. Namun, keterbatasan informasi mengenai properti sewa dan kondisi risiko bencana pada lokasi perlu menjadi perhatian dalam kajian lanjutan. Data yang tersedia tidak menunjukkan informasi spesifik mengenai risiko bencana di lokasi, meskipun beberapa wilayah di sekitarnya memiliki risiko banjir sedang hingga tinggi.

Area IV direkomendasikan sebagai balanced opportunity area, yaitu area yang memiliki keseimbangan relatif antara potensi pasar, dukungan lingkungan, dan biaya lahan. Pengembangan co-living pada area ini dapat diarahkan pada konsep yang menawarkan keseimbangan antara keterjangkauan harga sewa dan kualitas fasilitas. Dibandingkan area dengan biaya lahan tinggi, Area IV memberikan ruang yang lebih besar bagi pengembang untuk mengalokasikan investasi pada kualitas produk dan fasilitas bersama. Namun, sebelum pengembangan dilakukan, diperlukan verifikasi terhadap ketersediaan dan status lahan, regulasi pemanfaatan ruang, kondisi tapak, serta tingkat persaingan hunian sewa aktual.

Keempat area prioritas menunjukkan karakteristik dan implikasi pengembangan yang berbeda. Area I memiliki lingkungan pendukung yang kuat tetapi menghadapi biaya lahan relatif tinggi sehingga memerlukan strategi diferensiasi. Area II memiliki keunggulan biaya lahan dan keberadaan properti sewa sehingga lebih sesuai untuk strategi masuk pasar yang kompetitif. Area III memiliki dukungan fasilitas yang relatif kuat dengan biaya lahan menengah, tetapi masih memerlukan validasi terhadap kondisi pasar hunian sewa. Sementara itu, Area IV menunjukkan keseimbangan antara biaya lahan, kepadatan penduduk, dan fasilitas pendukung, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai area dengan pendekatan pengembangan yang lebih seimbang. Perbedaan karakteristik tersebut menunjukkan bahwa hasil penentuan area potensial tidak menghasilkan satu strategi pengembangan yang seragam, tetapi memerlukan penyesuaian berdasarkan kondisi masing-masing area.

Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan rangkaian analisis spasial yang telah dilakukan, penelitian ini menunjukkan bahwa potensi pengembangan properti co-living dipengaruhi oleh keterkaitan antara potensi permintaan, kondisi persaingan pasar, dan dukungan fasilitas terhadap kebutuhan target penghuni. Analisis potensi cakupan permintaan menunjukkan adanya konsentrasi wilayah yang memiliki keterjangkauan terhadap beberapa demand generators, yaitu perguruan tinggi dan kantor. Di sisi lain, analisis competitive landscape menunjukkan bahwa tekanan persaingan tidak tersebar secara merata, sehingga terdapat wilayah yang memiliki ruang pasar relatif lebih besar. Integrasi kedua komponen tersebut menghasilkan Market Opportunity yang menunjukkan variasi potensi pasar secara spasial. Selanjutnya, keterjangkauan fasilitas pendukung melalui walking isochrone 10 menit digunakan untuk memperkaya identifikasi peluang berdasarkan kualitas lingkungan pendukung bagi calon penghuni. Integrasi antara Market Opportunity dan keterjangkauan fasilitas menghasilkan peluang area properti yang menjadi dasar dalam menentukan area potensial pengembangan co-living. Hasil tersebut menunjukkan bahwa area dengan peluang lebih tinggi terutama terkonsentrasi pada bagian tertentu dari wilayah studi dan tidak tersebar secara merata.

Area dengan tingkat peluang area properti yang memenuhi kriteria kemudian digunakan sebagai weighted spatial opportunity surface dalam proses optimasi menggunakan metode Maximal Covering Location Problem (MCLP) melalui plugin NEBULA. Hasil optimasi menghasilkan sejumlah optimal reference points yang menunjukkan lokasi yang secara spasial mampu memaksimalkan cakupan wilayah dengan bobot peluang yang lebih tinggi dalam batas jarak pelayanan yang ditetapkan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lokasi optimal tidak selalu berada tepat pada area dengan nilai peluang area tertinggi, karena penentuan lokasi juga mempertimbangkan kemampuan suatu titik dalam mencakup wilayah peluang di sekitarnya.

Di dalam menerjemahkan titik hasil optimasi menjadi rekomendasi yang lebih operasional, digunakan buffer 500 meter sebagai priority search area. Tumpang tindih buffer dari beberapa titik hasil MCLP digunakan untuk mengidentifikasi konsentrasi spasial hasil optimasi dan menentukan area prioritas yang kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan GeoMapid. Hasil site analysis menunjukkan bahwa masing-masing area memiliki karakteristik yang berbeda, terutama dari aspek harga lahan, keberadaan properti sewa, fasilitas pendukung, dan kondisi lingkungan. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa area yang memiliki peluang spasial serupa dapat memiliki implikasi pengembangan yang berbeda apabila dilihat dari karakteristik tapaknya. Berdasarkan keseluruhan hasil analisis, penelitian menghasilkan empat area prioritas yang dapat dipertimbangkan sebagai area pencarian pengembangan co-living. Keempat area tersebut tidak diposisikan sebagai lokasi pembangunan yang bersifat presisi, melainkan sebagai area rekomendasi bagi pengembang untuk melakukan pencarian dan evaluasi lahan aktual. Strategi pengembangan pada masing-masing area juga perlu disesuaikan dengan karakteristik pasar dan kondisi lokasi, sehingga area dengan biaya lahan tinggi dapat memerlukan diferensiasi produk yang lebih kuat, sedangkan area dengan biaya lahan lebih rendah memiliki peluang untuk menerapkan strategi yang lebih kompetitif dari sisi harga dan efisiensi pengembangan.

4.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pengembangan co-living sebaiknya tidak hanya didasarkan pada lokasi dengan nilai peluang tertinggi, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan lokasi dalam menangkap peluang di sekitarnya, kondisi persaingan, dan karakteristik tapak aktual. Oleh karena itu, hasil titik MCLP dan area buffer sebaiknya digunakan sebagai acuan awal dalam proses pencarian lahan, sedangkan keputusan investasi akhir perlu didasarkan pada studi tapak dan studi kelayakan yang lebih rinci.

Bagi pengembang, area yang memiliki konsentrasi hasil optimasi dan Overall Opportunity yang tinggi dapat diprioritaskan untuk dilakukan survei lapangan dan pencarian parcel. Area dengan tekanan kompetisi yang tinggi memerlukan strategi diferensiasi yang lebih kuat, sedangkan area dengan tekanan kompetisi yang relatif rendah dapat dipertimbangkan untuk strategi penetrasi atau ekspansi pasar. Dengan demikian, hasil penelitian dapat digunakan tidak hanya untuk menentukan di mana pengembangan dapat dipertimbangkan, tetapi juga sebagai dasar awal dalam menentukan pendekatan strategi pengembangan pada masing-masing area.

Sebagai masukan penelitian selanjutnya, diperlukan data yang lebih representatif mengenai jumlah dan distribusi aktual mahasiswa serta pekerja pada tingkat spasial yang lebih detail agar pendekatan demand potential dapat menggambarkan besaran pasar secara lebih akurat. Penelitian selanjutnya juga dapat mempertimbangkan data historis dan aktual mengenai harga sewa, tingkat hunian, karakteristik penghuni, ketersediaan lahan, harga tanah terkini, serta kondisi kompetitor secara lebih rinci. Selain itu, analisis dapat dikembangkan melalui pengujian beberapa skenario service radius, bobot indikator, jumlah fasilitas, dan candidate area untuk menguji kestabilan hasil optimasi MCLP.

Penggunaan GeoMapid pada penelitian ini juga masih bersifat sebagai pendukung analisis dan penyaringan awal, sehingga hasilnya perlu dilengkapi dengan verifikasi lapangan, kajian regulasi, ketersediaan parcel, status kepemilikan lahan, dan analisis kelayakan finansial sebelum suatu area ditetapkan sebagai lokasi pengembangan aktual.

Data Publikasi

Analisis Kerawanan Longsor Berbasis Random Forest Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pengembangan WebGIS Kerawanan Longsor di Wilayah Bandung Raya

Iklim dan Bencana

28 Sep 2026

•

Reggie Anjlina

Analisis Kerawanan Longsor Berbasis Random Forest Menggunakan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pengembangan WebGIS Kerawanan Longsor di Wilayah Bandung Raya

Pemetaan kerawanan longsor Bandung Raya berbasis Random Forest, penginderaan jauh, dan SIG melalui WebGIS interaktif untuk mendukung mitigasi bencana.

41 menit baca

•

38 dilihat

ANALISIS KETIMPANGAN DISTRIBUSI LAYANAN STASIUN PENGISIAN KENDARAAN LISTRIK UMUM (SPKLU) DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN PENDEKATAN GAP ANALYSIS BERBASIS GRID HEKSAGON 1×1 KM

Energi

30 Sep 2026

•

Muhammad Fatih

ANALISIS KETIMPANGAN DISTRIBUSI LAYANAN STASIUN PENGISIAN KENDARAAN LISTRIK UMUM (SPKLU) DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN PENDEKATAN GAP ANALYSIS BERBASIS GRID HEKSAGON 1×1 KM

nalisis Ketimpangan Distribusi Layanan SPKLU di Kota Bandung menggunakan pendekatan Gap Analysis berbasis Grid Heksagon 1 × 1 km untuk mengidentifikasi kesenjangan antara ketersediaan layanan (supply) dan kebutuhan layanan (demand). Komponen supply dianalisis berdasarkan POI SPKLU tahun 2025 dan tingkat coverage menggunakan isokron, sedangkan demand direpresentasikan melalui jumlah kendaraan listrik berdasarkan P3DW tahun 2024 serta data kependudukan tahun 2024. Hasil integrasi kedua komponen digunakan untuk mengidentifikasi wilayah dengan tingkat pelayanan dan prioritas pengembangan SPKLU yang berbeda di Kota Bandung.

45 menit baca

•

32 dilihat

1 Proyek

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Makanan dan Minuman

06 Sep 2026

•

Ridhwan Saputra

Analisis Kesesuaian Lokasi dan Peluang Pasar untuk Ekspansi Gerai HokBen Berbasis Location Intelligence di Kota Surabaya

Analisis site selection ekspansi gerai HokBen di Kota Surabaya menggunakan GIS untuk mengintegrasikan land suitability, market opportunity, demografi, POI, aksesibilitas, dan harga lahan. Hasil analisis QGIS dibandingkan dengan GEO MAPID Site Selection untuk mengidentifikasi area potensial berdasarkan kesesuaian lokasi dan peluang pasar.

24 menit baca

•

564 dilihat

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Transportasi

04 Sep 2026

•

Meutia Amirotun Nuha

Evaluasi Keterjangkauan dan Usulan Rerouting Angkutan Kota Berbasis Location Analytics di Kota Malang, Jawa Timur

Penelitian ini mengevaluasi keterjangkauan pelayanan angkutan kota di Kota Malang dan menyusun alternatif rerouting berbasis location analytics. Keterjangkauan dianalisis menggunakan buffer 400 meter terhadap jaringan trayek eksisting, kemudian distribusi penduduk pada kawasan permukiman digunakan untuk mengidentifikasi population service gap. Kawasan yang belum terlayani dikelompokkan menjadi 27 cluster dan lima cluster dengan service gap terbesar dipilih sebagai Priority Service Area. Analisis selanjutnya mempertimbangkan jaringan jalan, pusat aktivitas, keterhubungan terhadap trayek eksisting, dan akses transportasi regional untuk menyusun koridor kandidat. Hasil menunjukkan bahwa pelayanan angkot eksisting menjangkau sekitar 616.575 jiwa atau 69,33% penduduk Kota Malang, sementara 272.784 jiwa belum terlayani. Skenario rerouting pada lima kawasan prioritas mampu menambah jangkauan terhadap sekitar 145.101 penduduk sehingga coverage meningkat menjadi 85,64%. Selain itu, 53 dari 56 POI prioritas berada dalam jangkauan pelayanan setelah skenario diterapkan. Temuan menunjukkan bahwa penanganan service gap secara terarah dapat meningkatkan keterjangkauan tanpa harus memperluas jaringan ke seluruh kawasan residual. Hasil penelitian merupakan screening spasial awal yang masih memerlukan validasi teknis dan operasional sebelum implementasi.

26 menit baca

•

428 dilihat

12 Data

1 Proyek

Syarat dan Ketentuan
Pendahuluan
  • MAPID adalah platform yang menyediakan layanan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk pengelolaan, visualisasi, dan analisis data geospasial.
  • Platform ini dimiliki dan dioperasikan oleh PT Multi Areal Planing Indonesia, beralamat